Tiongkok Siap Mendominasi Pasar EV Global dengan Kendaraan Berbiaya Sangat Rendah

15

Produsen mobil Tiongkok sedang mempersiapkan ekspansi besar-besaran ke pasar global, yang dipelopori oleh gelombang baru kendaraan listrik (EV) dan hibrida plug-in (PHEV) yang sangat terjangkau. Strategi tersebut, yang diluncurkan di Guangzhou Motor Show, bertujuan untuk memperkuat dominasi Tiongkok di sektor elektrifikasi pasar massal. Kendaraan-kendaraan ini, dengan harga antara $14.100 dan $21.100, merupakan ancaman signifikan bagi merek-merek mapan Barat yang berjuang dengan biaya produksi yang lebih tinggi dan peraturan emisi yang semakin ketat.

Keunggulan Harga: Era Baru dalam Persaingan EV

Strategi penetapan harga yang agresif bukanlah suatu kebetulan; ini adalah hasil dari persaingan yang ketat dalam industri otomotif Tiongkok. Selama sembilan bulan pertama tahun 2023, secara mengejutkan terdapat 2,35 juta kendaraan listrik dan PHEV dengan kisaran harga $14.100–$21.100 – peningkatan substansial dari tahun sebelumnya. Hal ini menjadikannya segmen pasar tunggal terbesar, mengungguli kendaraan dengan harga antara $21.100–$28.200 yang tetap relatif stabil di sekitar 2,3 juta penjualan.

Pada spektrum harga yang lebih rendah, model yang lebih terjangkau (di bawah $14.100) mengalami peningkatan penjualan dua kali lipat menjadi lebih dari 1 juta unit, yang menunjukkan preferensi konsumen yang jelas terhadap biaya yang lebih rendah.

Pemain Utama dan Rencana Ekspor

Beberapa produsen mobil besar Tiongkok bersiap untuk melakukan ekspor global. Leapmotor berencana untuk meluncurkan model A10-nya (mulai sekitar $14.100) secara internasional, sementara hatchback Lafa 5-nya juga akan memasuki pasar global dengan harga yang sama. Nio sedang bersiap untuk meluncurkan Firefly-nya di 17 pasar baru, termasuk Amerika Tengah, dengan banderol harga sekitar $14,100 di Tiongkok. Aion i60 dari GAC, sebuah SUV range-extender, akan dijual dengan harga sekitar $15.500.

Strategi ekspor yang agresif ini telah menunjukkan hasil; Pengiriman EV dan PHEV Tiongkok ke luar negeri meningkat 89% selama tiga kuartal pertama tahun 2023, mencapai 1,75 juta unit.

Biaya Perang Harga: Margin Keuntungan Di Bawah Tekanan

Meskipun kendaraan listrik yang terjangkau menguntungkan konsumen, perang harga yang tiada henti berdampak buruk pada profitabilitas produsen. BYD, produsen kendaraan listrik terkemuka, melaporkan penurunan laba bersih sebesar 30% selama kuartal Juli-September – penurunan pertama dalam empat tahun. Great Wall Motor mengalami penurunan laba serupa sebesar 30% meskipun terjadi peningkatan penjualan sebesar 20%. Hal ini menunjukkan bahwa volume saja mungkin tidak cukup untuk mempertahankan pertumbuhan jangka panjang tanpa peningkatan margin.

Implikasinya jelas: Produsen mobil Tiongkok rela mengorbankan keuntungan jangka pendek demi merebut pangsa pasar, sehingga berpotensi menimbulkan perubahan yang mengganggu dalam lanskap otomotif global.

Tren ini menimbulkan pertanyaan kritis tentang bagaimana tanggapan produsen Barat. Apakah mereka akan berusaha menyamakan harga, sehingga berpotensi mengorbankan margin mereka sendiri? Atau akankah mereka fokus pada segmen kelas atas, sehingga pasar massalnya kalah bersaing dengan Tiongkok? Jawabannya kemungkinan besar akan menentukan masa depan industri kendaraan listrik.