Selama enam tahun berturut-turut, Toyota Motor Corporation telah mengamankan posisinya sebagai produsen mobil terlaris di dunia. Pabrikan Jepang ini menjual 11,212,092 kendaraan secara global pada tahun 2024, meningkat 4,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini memperkuat dominasi Toyota di tengah pergeseran dinamika pasar dan meningkatnya persaingan.
Tokoh Utama & Kinerja Pasar
Kesuksesan Toyota mencakup merek-merek intinya: Toyota, Lexus, dan Daihatsu. Meskipun Hino, divisi truknya, menghadapi penurunan penjualan sebesar 12,0% setelah penyelesaian penipuan emisi, kinerja grup secara keseluruhan tetap kuat. Daihatsu mengalami lonjakan penjualan yang signifikan sebesar 46,1% di Jepang, mengimbangi kerugian di wilayah lain.
Sebaliknya, Volkswagen Group mengalami penurunan penjualan sebesar 0,5%, dengan total 8.983.900 kendaraan. Kesenjangan antara Toyota dan Volkswagen menyoroti kesenjangan yang semakin besar dalam kepemimpinan otomotif global.
Tren Regional & Lanskap Kompetitif
Kedua raksasa otomotif ini menyajikan kinerja regional yang kontras. Pertumbuhan Toyota didorong oleh penjualan yang kuat di Amerika Serikat (naik 8,0%) dan Jepang (naik 4,1%). Namun Volkswagen mengalami kesulitan di AS karena ketegangan perdagangan, dan posisinya di Tiongkok terus melemah.
Pasar Tiongkok adalah medan pertempuran yang penting, di mana Volkswagen kehilangan posisi penjualan teratasnya karena BYD pada tahun 2023 setelah memegang posisi teratas selama hampir empat dekade. Meskipun masih memimpin dalam penjualan kendaraan bermesin pembakaran di Tiongkok, tren yang lebih luas mengarah pada meningkatnya persaingan domestik.
Elektrifikasi & Pergeseran Drivetrain
Toyota mempertahankan kepemimpinannya yang kuat dalam teknologi hibrida, dengan hibrida penuh menyumbang 42,1% dari penjualannya. Munculnya opsi hybrid ringan, khususnya pada model seperti HiLux ute, semakin memperkuat posisinya.
Penjualan kendaraan listrik (EV) Volkswagen tumbuh sebesar 32,0% menjadi 983.100 unit, mewakili 10,9% dari total penjualannya. Meski menjadi merek kendaraan listrik terkemuka di Eropa, menyalip Tesla, Volkswagen mengalami penurunan tajam dalam penjualan kendaraan listrik di Tiongkok.
Peralihan ke elektrifikasi masih belum merata secara global, dengan fluktuasi insentif pajak dan preferensi pasar yang berdampak pada tingkat adopsi kendaraan listrik.
Implikasi Jangka Panjang
Kepemimpinan penjualan Toyota yang berkelanjutan menggarisbawahi kemampuannya untuk beradaptasi terhadap perubahan permintaan konsumen dan mempertahankan efisiensi produksi yang kuat. Kesenjangan yang semakin besar antara Toyota dan Volkswagen menunjukkan adanya potensi perubahan struktural dalam hierarki otomotif global.
Tekanan persaingan di Tiongkok, kebangkitan produsen kendaraan listrik dalam negeri, dan transisi keseluruhan ke mobilitas listrik akan mengubah industri ini di tahun-tahun mendatang. Strategi hibrida Toyota dan dorongan kendaraan listrik Volkswagen akan menjadi faktor penting dalam menentukan produsen mobil mana yang akan berhasil dalam lanskap yang terus berkembang ini.
